atu tahun yang lalu genap usiaku menjadi seorang international research student di University of Queensland. Mengapa memilih di Queensland dibandingkan Negara bagian lain di Australia adalah hal yang mudah dijawab, yaitu karena biaya hidup dan akomodasi lebih murah. Juga iklim subtropisnya yang masih serupa dengan cuaca di Indonesia seakan membuatku nyaman tinggal disini. Alasan utamaku sebagai seorang tenaga pendidik di salah satu universitas negri di Indonesia, tentu saja memilih University of Queensland karena termasuk satu dari delapan besar institusi pendidikan dan pusat riset utama di Australia (Group of Eight) sehingga reputasinya di dunia internasional tidak diragukan lagi.
pa sih enaknya menjadi research student? Pertama, karena aku lebih menyukai pekerjaan yang sedikit menantang walaupun bersifat rutinitas di laboratorium dibandingkan mendengarkan ceramah kuliah kalau menjadi coursework student. Keasyikan untuk berkutat menemukan jawaban yang baru dari sebuah pertanyaan ilmiah membuat kepuasan hati tersendiri. Kedua, aku juga mendapatkan fasilitas lebih seperti bebas memfotokopi, bebas mencetak sejumlah paper atau apapun, mendapatkan ruang studi sendiri beserta fasilitas kelengkapannya.
Kelebihan lain research student dibanding coursework student adalah mempunyai pengalaman mengerjakan riset lebih lama tentunya, menulis “thesis” sebuah kumpulan kertas idaman hati, mendapatkan kesempatan mengikuti bermacam grants seperti travel grants untuk mengikuti konferensi atau menulis publikasi/paper ilmiah di jurnal local, regional maupun internasional seperti halnya mahasiswa PhD.
Terbuka lebarnya kesempatan untuk bertemu dengan para scientist maupun orang terkemuka dunia dalam bidang ilmu kita juga menjadi salah satu keuntungan research student disaat menghadiri konferensi ataupun pertemuan ilmiah lain. Memperlebar “networking” dengan semua orang dari segala penjuru dari semua ras adalah satu diantara impian hidupku.
Tetapi, kalau kupikir lagi apa kerugiannya menjadi research student? Hal ini juga susah susah gampang untuk dijawab, seperti keterbatasan menentukan jadwal yang free untuk melamar suatu jenis pekerjaan tertentu sebagaimana coursework student yang bisa menjadwal pasti sesuai kalender akademiknya. Tapi dilain sisi, mahasiswa by research juga dapat melamar jenis pekerjaan tertentu yang mungkin tidak dapat dipilih oleh coursework student.
Waktu liburan semester, wah sepertinya menyenangkan membayangkannya saat membaca calendar akademik, tapi tidak sepenuhnya bisa kurasakan karena harus menyesuaikan dengan jadwal penelitian di lab dan harus kudiskusikan dahulu dengan my beloved supervisor.
antangan apa saja selama disini? Aku disini bukan hanya sebagai student, namun juga sebagai istri dari seorang lelaki yang juga baru beberapa minggu menjadi seorang student. Bagaimana memanajemen waktu sebagai student dan istri dirumah? Tentu tidak mudah menjawabnya. Sebagai full time student yang dituntut setiap hari harus melakukan experiment di lab dari pagi hingga petang, terkadang larut malam, atau
weekend dan public holiday, sangatlah dibutuhkan pengertian dan dukungan dari suami. Pembagian tugas rumah tangga yang membutuhkan keikhlasan hati kedua belah pihak kunci jawabannya.
Struggling dengan lingkungan baru serta budaya baru yang dirasakan suamiku yang tidak pernah mengenyam pengenalan bahasa dan budaya asing lewat jalur formal (seperti EAP dan IAP yang kualami sebagai AusAID student) sering sebagai PR tambahan buatku karena dibutuhkan perhatian ekstra untuk memberi gambaran yang lebih konkrit kepada sang suami.
Belum lagi kebutuhan rekreasional seperti berlibur disaat yang sama aku harus segera mempersiapkan laporan hasil riset untuk meeting atau menulis publikasi.
Pelajaran berharga “kemandirian” karena jauh dari orangtua dan anggota keluarga lain juga kudapat disini. Berbagi pengalaman duka saat suamiku sakit dan harus menjalani operasi dan rawat inap beberapa hari di salah satu rumah sakit disini tanpa harus memberitahukan kabar ini kepada keluarga di Indonesia sangatlah menyesakkan dada.
Struggling dengan makanan dan life style tidaklah teramat sulit bagi kami berdua sehingga kami tidak harus merogoh kocek yang melampaui budget fortnightly.
Pelajaran penting “menempa iman” jangan dilupakan sebagai pertahanan diri hidup di Negara dengan agama dan budaya berbeda. Bermacam kegiatan keagamaan seperti pengajian maupun acara silahturahmi kami jumpai disini.
Berorganisasi juga sebuah tantangan selain studi untuk mengenal karakter individu lain, dan juga mengembangkan kreatifitas serta ide-ide yang kita miliki.
Bekerja casual sebagai deliverer junkmail tiap weekend juga sebagai sarana aktivitas jasmani dan penunjang financial selain suami juga bekerja part time di UQ menjalani pekerjaan yang mungkin tidak dilakukannya saat di Indonesia.
ekedar tips dariku sebagai research student; hendaklah memiliki kepercayaan
diri berkomunikasi di public dan bergaul dengan siapapun, tidak cepat merasa frustasi terhadap hasil penelitian, jangan berlarut-larut membiarkan perasaan itu dan segera bangkitlah membangun semangat baru.
Tak luput membuat skala prioritas dan pengendalian diri adalah solusi terbaiknya.
Waktu berlalu begitu cepat dan tidak akan berkompromi hingga saat mempersiapkan thesis harus kumulai dari sekarang.
upervisor bukanlah segala-galanya tempat kita “research student” bergantung, melainkan diri kita sendirilah kuncinya.
engalaman demi pengalaman akan terasa indah saat dikenang sepulangku dari mengenyam pendidikan dinegri kangguru ini, tidak hanya sekedar pulang membawa ijasah bukti kelulusan.
(Dewi M.Hariyadi, Feb’07)