AGM UQISA 30 Juni 2007

AGM UQISA (PPIA ranting UQ) berlangsung dengan lancar dan melahirkan pengurus yang baru. Ada beberapa nama yang duduk dalam formatur terpilih yang selanjutnya akan menentukan posisi 3 besar sebagai Presiden Bendahara dan Sekretaris. Nama-nama tersebut antara lain Tonny W Poernomo, Al Hadi Bustamam, Pujiastuti dan Ha’i ragalawa.
Untuk selanjutnya formatur yg telah terpilih melalui AGM 30
June 2007 pada hari yang sama telah melakukan meeting yg juga dihadiri oleh mantan Presiden (Nur Iswanto, Bob Hardian dan Sitti Maesuri) serta mantan Bendahara UQISA (Rudiyansyah).

Kesepakatan dlm rapat adalah:
Presiden UQISA: Tonny W Poernomo
Sekretaris UQISA: Ha’i Ragalawa
Bendahara UQISA: Pujiastuti yang didampingi wakil Bendahara Anastasia Fitriadewi
Selamat para pengurus baru yg terpilih.
Again, thanks so much to all friends yg telah bersama-sama membawa UQISA sebagai organisasi dari kita untuk kita.

Dengan AGM ini maka pengurus yang lama yaitu Sitti Maesuri, Saptono W.Karsono dan Rudiyansyah dinyatakan berakhir. Untuk selanjutnya mulai tanggal 1 Juli 2007 pengurus baru dinyatakan efektif untuk menjalankan organisasi UQISA untuk periode 2007/2008.

Memutuskan menjadi research student di University of Queensland (UQ)

Satu tahun yang lalu genap usiaku menjadi seorang international research student di University of Queensland. Mengapa memilih di Queensland dibandingkan Negara bagian lain di Australia adalah hal yang mudah dijawab, yaitu karena biaya hidup dan akomodasi lebih murah. Juga iklim subtropisnya yang masih serupa dengan cuaca di Indonesia seakan membuatku nyaman tinggal disini. Alasan utamaku sebagai seorang tenaga pendidik di salah satu universitas negri di Indonesia, tentu saja memilih University of Queensland karena termasuk satu dari delapan besar institusi pendidikan dan pusat riset utama di Australia (Group of Eight) sehingga reputasinya di dunia internasional tidak diragukan lagi.

Apa sih enaknya menjadi research student? Pertama, karena aku lebih menyukai pekerjaan yang sedikit menantang walaupun bersifat rutinitas di laboratorium dibandingkan mendengarkan ceramah kuliah kalau menjadi coursework student. Keasyikan untuk berkutat menemukan jawaban yang baru dari sebuah pertanyaan ilmiah membuat kepuasan hati tersendiri. Kedua, aku juga mendapatkan fasilitas lebih seperti bebas memfotokopi, bebas mencetak sejumlah paper atau apapun, mendapatkan ruang studi sendiri beserta fasilitas kelengkapannya.

Kelebihan lain research student dibanding coursework student adalah mempunyai pengalaman mengerjakan riset lebih lama tentunya, menulis “thesis” sebuah kumpulan kertas idaman hati, mendapatkan kesempatan mengikuti bermacam grants seperti travel grants untuk mengikuti konferensi atau menulis publikasi/paper ilmiah di jurnal local, regional maupun internasional seperti halnya mahasiswa PhD.

Terbuka lebarnya kesempatan untuk bertemu dengan para scientist maupun orang terkemuka dunia dalam bidang ilmu kita juga menjadi salah satu keuntungan research student disaat menghadiri konferensi ataupun pertemuan ilmiah lain. Memperlebar “networking” dengan semua orang dari segala penjuru dari semua ras adalah satu diantara impian hidupku.

Tetapi, kalau kupikir lagi apa kerugiannya menjadi research student? Hal ini juga susah susah gampang untuk dijawab, seperti keterbatasan menentukan jadwal yang free untuk melamar suatu jenis pekerjaan tertentu sebagaimana coursework student yang bisa menjadwal pasti sesuai kalender akademiknya. Tapi dilain sisi, mahasiswa by research juga dapat melamar jenis pekerjaan tertentu yang mungkin tidak dapat dipilih oleh coursework student.

Waktu liburan semester, wah sepertinya menyenangkan membayangkannya saat membaca calendar akademik, tapi tidak sepenuhnya bisa kurasakan karena harus menyesuaikan dengan jadwal penelitian di lab dan harus kudiskusikan dahulu dengan my beloved supervisor.

Tantangan apa saja selama disini? Aku disini bukan hanya sebagai student, namun juga sebagai istri dari seorang lelaki yang juga baru beberapa minggu menjadi seorang student. Bagaimana memanajemen waktu sebagai student dan istri dirumah? Tentu tidak mudah menjawabnya. Sebagai full time student yang dituntut setiap hari harus melakukan experiment di lab dari pagi hingga petang, terkadang larut malam, atau

weekend dan public holiday, sangatlah dibutuhkan pengertian dan dukungan dari suami. Pembagian tugas rumah tangga yang membutuhkan keikhlasan hati kedua belah pihak kunci jawabannya.

Struggling dengan lingkungan baru serta budaya baru yang dirasakan suamiku yang tidak pernah mengenyam pengenalan bahasa dan budaya asing lewat jalur formal (seperti EAP dan IAP yang kualami sebagai AusAID student) sering sebagai PR tambahan buatku karena dibutuhkan perhatian ekstra untuk memberi gambaran yang lebih konkrit kepada sang suami.

Belum lagi kebutuhan rekreasional seperti berlibur disaat yang sama aku harus segera mempersiapkan laporan hasil riset untuk meeting atau menulis publikasi.

Pelajaran berharga “kemandirian” karena jauh dari orangtua dan anggota keluarga lain juga kudapat disini. Berbagi pengalaman duka saat suamiku sakit dan harus menjalani operasi dan rawat inap beberapa hari di salah satu rumah sakit disini tanpa harus memberitahukan kabar ini kepada keluarga di Indonesia sangatlah menyesakkan dada.

Struggling dengan makanan dan life style tidaklah teramat sulit bagi kami berdua sehingga kami tidak harus merogoh kocek yang melampaui budget fortnightly.

Pelajaran penting “menempa iman” jangan dilupakan sebagai pertahanan diri hidup di Negara dengan agama dan budaya berbeda. Bermacam kegiatan keagamaan seperti pengajian maupun acara silahturahmi kami jumpai disini.

Berorganisasi juga sebuah tantangan selain studi untuk mengenal karakter individu lain, dan juga mengembangkan kreatifitas serta ide-ide yang kita miliki.

Bekerja casual sebagai deliverer junkmail tiap weekend juga sebagai sarana aktivitas jasmani dan penunjang financial selain suami juga bekerja part time di UQ menjalani pekerjaan yang mungkin tidak dilakukannya saat di Indonesia.

Sekedar tips dariku sebagai research student; hendaklah memiliki kepercayaan

diri berkomunikasi di public dan bergaul dengan siapapun, tidak cepat merasa frustasi terhadap hasil penelitian, jangan berlarut-larut membiarkan perasaan itu dan segera bangkitlah membangun semangat baru.

Tak luput membuat skala prioritas dan pengendalian diri adalah solusi terbaiknya.

Waktu berlalu begitu cepat dan tidak akan berkompromi hingga saat mempersiapkan thesis harus kumulai dari sekarang.

Supervisor bukanlah segala-galanya tempat kita “research student” bergantung, melainkan diri kita sendirilah kuncinya.

Pengalaman demi pengalaman akan terasa indah saat dikenang sepulangku dari mengenyam pendidikan dinegri kangguru ini, tidak hanya sekedar pulang membawa ijasah bukti kelulusan.

(Dewi M.Hariyadi, Feb’07)

Pelayanan Konsuler Imigrasi 2 Juni 2007

Berita terbaru kali ini datang dari PPIA Queensland. Terkait dengan kebutuhan para warga Queensland terhadap layanan Imigrasi dan Konsuler, tanggal 2 Juni ini, seksi sosial PPIA Queensland bekerja sama dengan KJRI Sydney serta Perhimpunan Indonesia Queensland (PIQ) mengadakan pelayanan konsuler dan imigrasi. Kegiatan ini mencangkup pelayanan pengecapan paspor tentang alamat tinggal selama di Australia, perpanjangan paspor yang telah habis masa berlakunya, serta pelayanan konsuler berhubungan dgn surat-surat yang perlu di legalisir oleh pemerintah Indonesia.

Ada beberapa hal yg perlu diingat:
1. Masyarakat diwajibkan sudah memfotokopi dokumen yg akan diajukan.
2. Membawa pasfoto terbaru (4 buah), khususnya bagi yg terkait dgn penggantian paspor, dan lapor diri.
3. Lapor diri tidak dikenakan biaya.
3. Membawa uang pas. Untuk konsuler, biaya legalisasi $35, surat keterangan $25. Imigrasi utk paspor $40. Mohon membawa uang pas. Pihak KJRI Sydney akan berikan kwitansi penerimaan.
4. Khusus utk mereka yg mengurus penggantian paspor dan dokumen penting lainnya, agar menyiapkan amplop balasan “PLATINUM” yg dapat dibeli di kantor pos. Amplop tsb kemudian sudah ditulis alamat tujuan.
5. Mohon menyiapkan sumbangan sukarela yg di serahkan pada saat pendaftaran pelayanan, demi kelangsungan Pesta Rakyat 2007.

Kami dari pihak panitia menganjurkan agar masyarakat Indonesia di Queensland utk mendapatkan formulir yg di butuhkan secara online dan di print sendiri. Formulir dapat di cari di http://www.indonesianconsulatesydney.org.au/ Mohon menghubungi pihak KJRI Sydney sekiranya ada formulir yg tidak tercantum di website.

Detail acara pelayanan imigrasi dan konsuler berikut:
Tempat: QUT Gardens Point campus (city) D block area (please refer to http://www.qut.edu.au/about/location/map_gp.pdf).
Hari / tanggal: Sabtu / 2 Juni 2007.
Waktu: 10am – 4.30pm (pelayanan imigrasi & konsuler, break time 1-2pm),
6-7pm (dinner, free for all),
7-9.30pm (ramah-tamah dgn Konjen baru, Bapak Sudaryomo Hartosudarmo dan Ibu; sosialisasi UU Kewarganegaraan yang baru).

Utk informasi lebih lanjut bisa menghubungi di nomor yg tertera di bawah. Dimohon bantuannya utk memberitahukan kepada seluruh masyarakat Indonesia di Queensland. Terima kasih.

Stefanus Danudibroto
Social & education division, PPIA Queensland
Email: social.education@ppia-qld.org
Phone: +61-405180897 (vodafone)

Academic Discussion with New Students

To start the new academic year, another step forward was taken when the UQISA Academic Section collaborated with the Social and Recreational Section to put on an event called ‘New Students Academic Session’ on February 16th, 2007. This followed a Welcoming Party for new Indonesian students and an Academic Workshop about the challenges and hopes for the future of Indonesian intellectuals. The session was presented as an informal discussion, supported by the UQ International Education Directorate. It was aimed at providing a space in which new students from the PhD and Master’s Programs could gain more information about study preparation at UQ.

The UQISA’s first event was from 4pm to 6pm in the Sir James Foots Building. It involved the most talented and skilled Indonesian panelists from their field of study and social activities. They were: Nur Iswanto (PhD Program and former President of UQISA 2005), Suseno Hadi (PhD Program and former President of IISB 2006), Bob Hardian (PhD Program and former President of UQISA 2005), Saptono (Master’s Program, former Treasurer of IISB 2006 and Secretary of UQISA 2007), Wukir (Master’s Program and former Business Section of IISB 2006), Dewi Melani (Master’s by Research Program and former Treasurer of People Party 2006), Dyiah (PhD Program) and Diky Ramdani (Master’s by Research Program and the President of Indonesian Student at UQ Gatton Campus).

Continue reading

O week market day:

Pada awal perkuliahan (Februari untuk semester ganjil dan Juli untuk semester genap) masa orientasi students di UQ selaludiisi dengan acara pasar raya internal utau disebut cara O week, yang biasanya diselenggarakan di lapangan Great Court. Semua club (sport, kesenian, international students, club dance, religion) dibawah Club and Society (UQ Union) tumpah ruah di Great Court.

Di arena itu kita bisa dapat diskon, booklet gratis, celana dan baju gratis (kalau lagi ada stalnya ya….), piring gelas dari Health Center, Pulsa dari Optus, juga cari info tentang registrasi keanggota di berbagai sports, daftar kenggotaan club (contoh UQBS / untuk bisnis school students, socialists, MSA/ muslim students association dan yang pasti jadi anggota UQISA (Ini yang paling utama….)

Sekedar info, untuk tahun 2007 ini, 0′ week market Day akan diselenggarakan pada tanggal 21 Feb pasti 2007. Yang pasti UQISA akan hadir di arena tersebut dengan InsyaAllah stan yang meriah dan penuh warna….

Continue reading

Pesta Rakyat, Apa Itu??

Memperingati kebahagiaan di hari kemerdekaan RI, kita-kita yang berada di Brisbane senantiasa memperingatinya dengan acara pesta yang meriah. Di berbagai kota di Aussi meski dengan berbagai tajuk/tema yang berbeda judul dari acara peringatan kemerdekaan disebut dengan “Pesta rakyat”.
Tahun 2006 di Brisbane, acara Pesta rakyat dipusatkan di lapangan UQ di depan Forgan Smith Building, pada 26 Agustus 2006 adalah momen yang paling besar yang pernah diadakan oleh UQISA bekerja sama dengan PIQ beserta para students dari Universitas lainnya yang tergabung dalam PPIA Queensland.

Dengan attendants yang mencapai ribuan jumlahnya serta persiapan panjang yang cukup melelahkan akhirnya kegiatan ini telah sukses diselenggarakan.

Pesta rakyat sebagai media bagi para warga negara Indonesia yang tinggal di Queensland untuk memperingati detik-detik perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaannya.

Continue reading

Konsuler n Imigration service, 29 Oct 06

Pada hari Minggu 29 Oktober 2006, Alhamdulillan kita kedatangan tamu-tamu yang telah lama kita tunggu, yaitu para bapak-bapak dari Sydney, so UQISA memanfaatkannya dengan menyelenggarakan acara pelayanan konsuler dan keimigrasian

Salah satu materi penting kunjungan Konjen RI keBrisbane adalah
mengadakan pelayanan keimigrasian dan kekonsuleran. Berarti teman-teman yang perlu memperpanjang paspor, atau yang sekedar mencap paspor dengan alamat domisili
di Brisbane (supaya tidak perlu bayar fiskal kalau pulang pergi ke Indonesia), dapat memanfaatkan acara tersebut.

Continue reading