(Laudatiara, St. Lucia-Brisbane)
Diterbitkan juga di:
http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0612/18/074216.htm
Dalam rangka hari Ibu Indonesia, saya ingin meng”acknowledge” peran perempuan Indonesia yaitu para istri pendamping suami yang belajar dan pelajar perempuan.. Sisi menarik dari hidup keseharian mereka ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan “komunitas kecil penduduk Indonesia” di “desa pelajar” tempat kami tinggal. (Catatan: entah kenapa saya lebih suka memakai istilah “perempuan” – yang di-“empu”kan — daripada istilah “wanita”).
Sebagian dari mereka adalah para istri pendamping suami yang sedang melakukan tugas belajar maupun menempuh program post-doctoral. Banyak diantaranya yang dengan ikhlas hati mengorbankan karir mereka di Indonesia demi mengikuti suami. Kejutan budaya harus mereka hadapi di awal kedatangannya. Kesepian dan bahasa menjadi masalah utama. Karena para suami biasanya sibuk dengan studinya, maka sebagian di antara mereka memang harus mengatasi masalah-masalah tersebut seorang diri agar tidak membebani suami.
Beberapa dari mereka adalah pengantin baru. Adaptasi dengan “suami baru” merupakan masalah penting yang harus dihadapi disamping, bahasa dan budaya baru. Untuk para ibu yang sudah berputra, masalah sedikit berbeda. Mereka masih harus mengajari anak-anak beradaptasi dengan lingkungan baru. Dan hal itu bukan hal yang mudah, walau untuk beberapa hal kelihatannya sepele…… misalnya membiasakan anak menggunakan toilet tissues bila “b-a-b” di sekolah.
Urusan masak-memasak terkadang menjadi masalah besar bagi mereka, karena mungkin ketika di Indonesia mereka tidak bisa memasak, dan hanya tergantung pada ibu, pembantu, maupun jasa katering. Ketika sampai di luar negeri, demi menghemat pengeluaran, mereka harus memasak sendiri dengan jenis bumbu yang terbatas variasinya. Jadilah, internet menjadi penuntun memasak yang sejati (untung mendapat jatah free internet access dari universitas). Kehamilan dan melahirkan tanpa dampingan ibunda dan keluarga, terutama bagi ibu baru, menjadikan mereka wanita perkasa. Selain suami, tidak ada orang yang bisa dimintai tolong untuk merawat bayi di hari-hari pertama kehadirannya di dunia.
Ketika keadaan sudah mulai stabil, para perempuan ini menjadi semakin perkasa. banyak diantara mereka yang kemudian melakukan pekerjaan sampingan untuk mengisi waktu dan menambah penghasilan. Mulai dari menjadi pekerja di pabrik pie, pelayan resto, pengasuh anak, penyedia jasa catering kecil-kecilan sampai junkmailer, cleaner dan house keeper. Sebagai house-keeper, tugasnya adalah membersihkan rumah, wc, seterika, memasak, termasuk mengasuh anak. Mereka terkadang geli sendiri, karena kalau di Indonesia semua items pekerjaan di atas biasanya adalah job list para pembantu mereka!!! Tak kalah hebatnya para ibu yang bekerja sebagai cleaner di universitas. Jam kerjanya tidak tanggung-tanggung, 3-6 jam per hari…. dan dilakukan di tengah malam hari sampai pagi subuh dari Minggu sampai Kamis malam !!!! Alat-alat pembersih WC dan vacuum yang diransel dipunggungnya (yang lumayan berat juga!!) adalah “senjata” mereka. Sepulang dari bekerja di pagi hari, mereka langsung mempersiapkan sarapan pagi, untuk anak-anak dan suami. Siangnya harinya, mereka harus membereskan rumah, mengasuh anak balitanya, memasak, dan bahkan terkadang masih mempunyai side job yang lain, misalnya junkmailer ataupun jasa catering…. Wow…. Iyalah, semua kegiatan ini sangat membantu untuk membunuh rasa sepi dan kangen pada sanak keluarga di tanah air.
Pelajar perempuan yang memboyong seluruh keluarganya, ternyata juga tidak bisa “lari” dari kewajibannya sebagai istri dan ibu. Di sela-sela kesibukan sekolahnya, mereka masih tetap harus mengurus anak dan suami. Celakanya, kalau kebetulan suami mereka adalah tipe suami manja yang selalu minta dilayani. Tapi kebanyakan bapak-bapak di sini cukup banyak membantu meringankan kerepotan istri kok…… iya kan pak??? Ehmm…
Para pelajar perempuan yang telah menikah dan karena keadaan, tidak boleh maupun tidak bisa “membawa” suami dan anak patut mendapat point tersendiri. Masa studi 2 – 4 tahun bukanlah masa yang pendek untuk suatu kehidupan keluarga yang terpisah. Bisa dibayangkan di tengah kondisi belajar yang sangat stressful, mereka masih harus berjuang mengatasi rasa kangen pada anak dan suami yang ditinggalkannya. Beberapa dari mereka harus berjuang keras menguatkan hati untuk meninggalkan bayi yang masih disusuinya. Meninggalkan bayi sejak berumur beberapa bulan, sampai si anak mencapai umur 4 tahun, merupakan hal yang sangat menyakitkan dan bukan hal yang bisa dibanggakan. Miskomunikasi akibat hubungan jarak jauh dengan suami seringkali tidak dapat dihindari, Memang untuk mempertahankan keutuhan keluarga perlu cinta yang tulus, kebesaran jiwa, komitmen yang tinggi diantara suami-istri. Dan itu bukan hal yang mudah.
Pelajar perempuan, single mother yang membawa anak tak kalah heroiknya. Jam belajar dan penelitian laboratorium harus bersaing ketat dengan jam antar jemput sekolah, mengajari belajar anak di sore hari dan membawa mereka dolan setiap weekend-nya. Belum lagi kalau anak susah makan dan minta dimasakkan menu yang “amat sangat mustahil”. Anak sakit dan tidak masuk sekolah menyebabkan kepala menjadi ikut-ikutan sakit, karena semua jadwal penelitian harus ditunda mendadak sampai anak sembuh. School holiday, apalagi liburan akhir tahun…… a real big disaster buat kelompok perempuan ini. Selain harus ikut-ikutan meliburkan sebagian jadwal penelitian, juga terpaksa menguras kantong, karena harus membawa anak-anak berjalan-jalan agar tidak bosan. Karena harus mempunyai tabungan yang cukup untuk “membeli cinta” (http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0611/24/131049.htm) maka sebagian dari mereka masih nekad juga untuk bekerja semampunya.
Demi cinta pula…. membuat seorang teman, single mother 2 anak, bekerja menjadi cleaner di universitas. Seorang anaknya menderita bisu dan tuli sejak lahir. Sang ibu bertekad agar selama keberadaan mereka di Australia, anaknya bisa mendapat kesempatan mendapatkan operasi implant. Operasi ini membutuhkan biaya yang sangat besar, sehingga mengharuskannya untuk nekad bekerja setiap malam buta disamping tugas utama bersekolah di pagi harinya dan mengurus 2 anak. Sekarang ibu perkasa itu sudah menyelesaikan pendidikan Masternya, dan anak kesayangan sudah mulai bisa berkomunikasi (Salut untuk mbak Y di Bdg…. Maaf kisah anda selalu saya ceritakan pada banyak orang).
Golongan terakhir dari para perempuan perkasa ini adalah para dara jelita. Mereka menguatkan hati berpisah dengan kekasih hatinya untuk meraih cita sambil berusaha keras mempertahankan benang cinta yang terentang antara dua benua. Beberapa adalah para dara perkasa yang pergi menyeberang samudera, dengan membawa serpihan hati luka, karena ditinggal sang perjaka bernyali hanya selebar tempurung kura-kura, yang tak rela sang dara menggapai cita. Ada juga para dara peraih cita yang masih terus mengembara untuk menemukan belahan jiwanya. Keep going girls!!
Bila masa studi berakhir dan pulang ke tanah air, tantangan lain menghadang: beradaptasi kembali dengan keunikan budaya. Namun yang lebih penting adalah menyatukan hati dan ritme kehidupan sehari-hari dengan suami, anak, orang tua, maupun pacar tercinta yang telah mereka tinggalkan. Kebiasaan selama 2-4 tahun menjadi “lone-ranger” yang terkadang “semau gue” harus segera diubah ketika kembali ke tengah keluarga. Diperlukan beberapa waktu bagi seluruh anggota untuk bisa saling menerima dan mengubah kebiasaan sehari-hari. Kisah tragis ditinggal kekasih hati ketika pulang…. hiks… ada juga sih… tapi amit-amit jangan ada lagi!!
Inilah sebagian cerita dari para perempuan perkasa Indonesia di suburb kami. Sebenarnya banyak kisah yang tak kalah heboh dan heroiknya dari para mas/suami Indonesia di sini, maupun para mas/suami di Indonesia yang dengan hati tulus seluas samudera merelakan pacar/istrinya bersekolah ke luar negeri dan berkorban mengasuh anak yang ditinggal ibunya. Tapi …. Ntar ah…. Nunggu kalau Father’s day saja…. Atau biarlah para bapak dan mas-mas sendiri yang berbagi cerita. May God Bless You, Para Perempuan Indonesia.
st. lucia – menjelang hari ibu indonesia, desember 2006