(Laudatiara- St. Lucia, Brisbane)
Diterbitkan juga di:
http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0611/24/131049.htm
“Satu perusahaan periklanan membutuhkan beberapa orang untuk ditempatkan di bagian promosi. Fasilitas: uang saku tambahan, sarana fitness, informasi discounted stores yang up to date”. Demikian biasanya yang saya tuliskan di mailing list student Indonesia kami, bila ada job vacancy. Staff bagian promosi?? Sebenarnya adalah lowongan sebagai junkmail deliverer….ha…ha…ha… But it’s true, I am not telling a lie. Dengan mengantarkan brosur-brosur toko, kita kan layaknya staff di bagian promosi. Informasi terkini tentang discounted stores? Itu jelas, karena brosur toko biasanya memuat barang-barang diskon. Sarana fitness?? Kita memang harus berjalan kaki menyusuri jalan-jalan yang sudah ditentukan dan memasukkannya ke dalam mailbox. Terkadang malah harus berlari-lari…… gara-gara dikejar anjing! Belum lagi kalau menjelang Natal atau event-event tertentu, dalam 1 hantaran, kita harus memasukkan antara 10-20 macam brosur ke dalam 1 kotak pos. Bisa dibayangkan berapa berat shopping trolley atau ransel yang harus ditarik/jinjing di masa-masa itu.
A bulk of junkmail di-drop ke halaman rumah saya 2x per minggu. Sedangkan community newspaper di-drop 1 minggu sekali. Jumlah junkmail/koran yang harus diantarkan sekitar 400-an mailbox. Sore hari, setelah menjemput anak dari afterschool care, acara melipat junkmail dan koran dimulai, sambil menunggui anak belajar. Bila brosur sangat banyak, terkadang ritual tersebut baru selesai jam 11 atau 12 malam. Saya selalu berharap mendapatkan kiriman cukup 5-8 brosur saja, jadi tidak terlalu lama melipatnya dan tidak berat membawanya. Koran harus disisipi brosur toko dan dimasukkan ke dalam plastik. Urusan “pemlastikan” sering saya langgar selama hari tidak hujan.
Pukul 4 pagi (summer) atau 5 (winter), acara fitness dimulai setelah loading semua koran dan junkmail ke dalam mobil. Atas kemurahan Tuhan, 2 tahun terahir ini saya mendapatkan area junkmail yang overlap dengan area distribusi koran, dan persis di depan rumah. Kebetulan daerah ini banyak unitnya, sehingga dalam sekali drop bisa lebih dari 3 mailbox. Mobil parkir di pojokan blok, memasukkan koran dan junkmail ke trolley dan mulailah acara gerak jalan mengelilingi blok. Setelah selesai 1 blok, mobil pindah ke blok yang lain, demikian seterusnya. Jam 7 pagi harus segera pulang mempersiapkan sekolah anak. Kalau belum selesai, acara jalan dilanjutkan pada malam harinya setelah menjemput anak dari child care.
Untuk daerah unit blok, 400 mailbox bisa selesai dalam waktu 2 jam-an, Namun untuk daerah perumahan bisa makan waktu 3-4 jam. Saya pernah mendapat area yang banyak perumahannya mewahnya. Harus berjalan 10 meter untuk mencapai mailbox yang berikutnya. Di masa-masa itu, banyak air mata tercurah, berjalan sambil merenungi nasib, bahkan sampai sempat menyelesaikan doa Rosario beberapa kali putaran, karena banyak “menganggur” untuk mencapai mailbox berikutnya.
Sebenarnya berat menjalani profesi ini. Meninggalkan anak sendirian di rumah yang sebenarnya dilarang (selalu titip Gusti Allah untuk menjaga rumah dan anak saya). Kalau winter, jam 5 pagi jalanan masih gelap dan dingin. Belum lagi kalau hujan. Dikejar dan di”scratch” anjing, terpeleset sampai luka-luka, kesleo punggung yang setengah mati sakitnya gara-gara salah posisi angkat koran, lari ketakutan gara-gara kemalaman melewati daerah yang agak “aneh”, semua pernah saya alami. Dimarahi pemilik rumah yang menolak junkmail maupun dikomplain gara-gara tidak mendapat hantaran junkmail/koran, juga sering terjadi. Namun Tuhan Maha Penyayang, sejauh ini saya tidak pernah diganggu orang walaupun harus keluar seorang diri di pagi buta/malam hari.
Hampir 3 tahun saya menapaki perjalanan spiritual saya di negara orang antara lain dengan menjalani profesi ini. Sebagai seorang overseas student, single mother 1 anak, dan meninggalkan suami dan 1 anak yang lain di Indonesia. Pekerjaan ini sangat berarti sebagai tambahan membeli 2 buah tiket pp setiap semester demi mempertemukan kami sekeluarga, juga untuk membawa mereka pergi dolan bila suami dan anak sedang berkunjung ke Oz. Yah, semua demi “membeli cinta”…. Kata teman saya. Bila dihitung, penghasilan tukang koran dan junkmailer selama 2 minggu hampir setara bahkan melebihi gaji pegawai negeri, dosen lulusan Master di negara tercinta. Kasian deh! Di semester akhir ini, anak saya telah pulang ke Indonesia. Semua rejeki yang saya dapat dari Gusti Allah rasanya sangat berkelimpahan. Saat ini “divisi promosi” sudah berpindah tangan kepada teman lain yang masih memerlukan tambahan untuk “membeli cinta”.